Pages

Showing posts with label About Life. Show all posts
Showing posts with label About Life. Show all posts

Saturday, January 5, 2013

Sendiri



~~~~~
Sendiri...
Aku di sini...
Berteman sepi...
Tak ada yang perduli...

Ah...,
Mengapa meratapi diri
Mengapa bergundah hati
Bukankah akhir nanti akan sendiri
Saat diri telah mati...

Lebih baik menyiapkan hati
Agar dapat menikmati kesendirian ini

~~~~~
Jakarta, 05 Januari 2013, malam hari
Ditulis dan diposting saat sedang sendiri

Thursday, September 30, 2010

The Way We Were - Barbara Streisand

~~~~~

Memories...,
light the corners of my mind,
misty watercolor memories,
of the way we were.

Scattered pictures,
of the smiles we left behind,
smiles we gave to one another,
for the way we were.

Can it be that it was all so simple then,
or has time rewritten every line,
if we had the chance to do it all again,
tell me...,
would we?
could we?

Memories...,
may be beautiful and yet,
what's too painful to remember,
we simply choose to forget,

So it's the laughter,
we will remember,
whenever we remember,
the way we were.

So it's the laughter,
we will remember,
whenever we remember,
the way we were.


~~~~~
Jakarta, 30 September 2010, 11.35 malem
Diposting saat lagi "mentok" banget ama lirik lagu ini...

Tuesday, September 28, 2010

Mimpi

~~~~~

Pada suatu hari, ada seorang guru tua yang menangis tersedu-sedu ketika baru saja bangun dari tidurnya. Melihat hal ini sang murid segera menanyakan apa yang terjadi.

Murid : "Ada apa Guru, mengapa Engkau menangis ketika baru saja bangun dari tidur?
Apakah Engkau bermimpi sangat buruk?"

Guru : "Tidak..., aku malah bermimpi sangat baik, sangat indah. Mungkin mimpi yang terbaik dari semua mimpi-mimpiku selama ini"

Murid : "Lalu..., mengapa Engkau justu menangis tersedu-sedu saat bangun ?"

Guru : " Aku menangis, karena semua hal-hal indah itu hanya terjadi di mimpiku. Ketika aku bangun, maka hilanglah semuanya. Dan..., aku yakin bahwa semua keindahan itu hanyalah mimpi, fatamorgana yang tak mungkin kujumpai di kehidupan nyata ini'


Diadaptasi secara bebas dari sebuah KMovie berjudul A Bittersweet Life

~~~~~
Jakarta, 28 September 2010, 10.20 malam
Ditulis dan diposting saat terkesan oleh alur film A Bittersweet Life, yang mengisahkan tentang akibat kesewenang-wenangan atasan terhadap anak buahnya

Saturday, September 18, 2010

Melarikan Diri



~~~~~
sobat...,
mengapa kau terus berlari...,
berlari...
dan berlari tanpa henti...
melarikan diri dari masalah ini

sobat...,
tak lelahkah engkau tuk menjalani semua itu

sobat...,
sampai kapan engkau terus berlari,
sampai kapan engkau terus melarikan diri,
apakah sampai penat menguasai diri?
bukankan itu artinya menyiksa diri?

sobat...,
berhentilah melarikan diri,
karena
masalah tak akan selesai dengan melarikan diri.

"No matter how bad your broken heart, the world doesn't stop for your grief, so... stop crying, try to stand on your own feet and face the reality"

~~~~~
Jakarta, 20 September 2010, tengah malam
Dibuat dan diposting khusus untuk seseorang yang pernah mewarnai lembar hidupku

Wednesday, August 11, 2010

Puisi Doa Orang Lapar - WS Rendra

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

~~~~~
Jakarta, selepas sahur
Diposting saat merasa harus bersyukur atas nikmat-nikmat ALLOH yang tak terhitung jumlahnya

Tuesday, January 19, 2010

Bersyukur


~~~~~

Jakarta, January 19, 2010

Ditulis saat merasa diri ini sangat kurang bersyukur atas segala nikmat ALLOH

Wednesday, November 11, 2009

Pahlawan di Masa Kini

~~~~~
10 November...,

Saat itu saya benar-benar lupa kalau hari itu adalah hari Pahlawan. Maklumlah saat ini hari-hari besar nasiona sudah tidak sesemarak dulu. Saya ingat saat masih duduk di Sekolah Dasar, setiap hari besar nasional pastilah Sang Merah Putih ramai berkibar di setiap depan rumah. Hal tersebut seaakan-akan merupakan kewajiban sebagai tanda nasionalisme, sehingga saat itu meupakan hal yang memalukan bila hari besar nasional tidak diperingati dengan mengibarkan bendera Merah Putih.

Namun sekarang ini merupakan sesuatu yang langka, mengibarkan bendera di depan rumah untuk memperingati hari besar nasional. Bendera baru ramai berkibar saat musim kampanye saja, itupun yang berkibar bukanlah Sang Merah Putih, namun bendera partai.

Mungkin sekarang sifat nasionalisme dan ke-Indonesia-an sudah bergeser menjadi sifat ke-PARTAI-an dan ke-AKU-an. Entahlah...

~~~~~
Pahlawan...,

Jelas pahlawan adalah orang yang dianggap berjasa bagi negeri ini karena keberanian dan pengorbanannya, maka tak heran mereka yang berjuang saat masa kemerdekaan dulu, disebut sebagai pejuang. Ya..., mereka memang sangat pantas disebut sebagai pejuang, karena berani mengorbankan jiwa raga untuk kemerekaan yang belum tentu akan mereka nikmati.

Lalu masih adakah pahlawan saat ini?

Banyak..., namun yang paling banyak adalah pahlawan-pahlawan kesiangan, yang hanya meng-claim dirinya sebagai pahlawan atas hasil kerja yang "mungkin bukan" miliknya.

~~~~~

Bagi saya, pahlawan di saat ini adalah mereka yang benar-benar mau dan rela melayani dengan sepenuh hati, meski terrkadang hal tersebut merupakan tuntutan hidup.

Di antara mereka adalah :





Tukang sapu jalanan, tukang sampah, kuli bangunan dan buruh panggul, merekalah pahlawan sejati di saat ini.

Bagi saya mereka lebih mulia dan berjasa dari pada "orang-orang berbaju batik" di Senayan yang hanya berkoar-koar dengan janji-janji manis tapi tanpa bukti nyata.

Tuesday, September 22, 2009

Air dan Konsistensi

~~~~~
Dari dalam pipa, dia meluncur keluar, sesaat setelah keran dibuka.
Berpindah ke dalam ketel.
Namun tetap disebut sebagai air.

Dari dalam ketel, dia dijerang diatas kompor.
Menghangat, beberapa saat kemudian bergejolak, mendidih.
Ada sebagian dirinya yang berubah menjadi uap.
Namun tetap disebut sebagai air, meskipun kini ada embel-embel uap air.
Sisa air yang tertinggal dalam ketelpun tetap disebut sebagai air,
meskipun kini telah bergelar air panas.

Dari dalam ketel...,
Ada yang berpindah ke dalam botol-botol termos, untuk menjadikannya tetap panas.
Ada yang berpindah ke dalam botol-botol beling bekas sirup, untuk kemudian dipindahkan ke dalam kulkas.
Ada pula yang berpindah ke dalam kotak-kotak kecil, terbuat dari plastik, untuk kemudian dimasukkan ke dalam freezer.
Namun semuanya tetap disebut sebagai air.

Dari termos, dia beindah ke dalam gelas, bercampur dengan gula dan kopi.
Dia bertransformasi menjadi kopi seduh.
Tetap saja dianggap sebagai air.

Dari kopi seduh dalam gelas,
dia berpindah lagi ke dalam mulut orang, terus menuju lambung.
Masih tetap disebut sebagai air.

Dari dalam tubuh,
dia berpindah ke dalam toilet untuk dikeluarkan sebagai air seni.
Dan lagi-lagi masih disebut sebagai air, meskipun kini telah dianggap sebagai sesuatu yang kotor.

Dari dalam toilet,
dia bercampur dengan limbah cair lainnya, terserap bumi.
Dan tetap disebut sebagai air.

~~~~~

Air...,
Ah..., kekonsistensianmu menggugahku.
Apapun wujud, tempat, sebutan, serta derajatmu tak lekang mengubahmu inti sejati dirimu untuk menjadi tetap menjadi air.
Yang selalu mengabdikan diri tanpa pamrih dan tak pernah sekalipun mengeluh.



Semarang, 23 September 2009
Dini hari

Terpaksa atau Dipaksa?

~~~~~

Setiap manusia pasti punya sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupannya. Baik berupa benda yang punya nilai historis, kenangan manis yang tak terlupakan atau seseorang yang dikasihi.
Dan bila dihadapkan dengan pilihan, pastilah semua akan mengatakan tidak ingin untuk berpisah atau kehilangan hal-hal tersebut.

~~~~~

Namun manusia hanyalah berencana, bukan yang menentukan.

Terkadang dalam hidup ini, yang namanya kehilangan tak dapat untuk dihindari.
Hingga hanya 2 opsi yang tersisa, tepaksa atau dipaksa.

Tak ada perbedaan pada hasil akhir kedua opsi tersebut, namun ada sebuah perbedaan mendasar pada proses pemilihan opsi.

Saya..., akan cenderung memilih opsi terpaksa daripada dipaksa.

Terpaksa akan menjadikan saya sebagai subjek yang meskipun mau tak mau harus menerima hasil akhir, tetapi sebagai subjek akan lebih tinggi nilainya karena artinya akan lebih aktif bila dibandingkan dengan dipaksa yang menjadikan diri sebagai objek yang harus "manut".

~~~~~

Saat diri merasa kehilangan,
tegarlah....
karena itu berarti bahwa kita pernah memiliki.

~~~~~


Jakarta, 14 Oktober 2009, dini hari
Akhirnya diposting juga, setelah lama hanya menjadi draft dalam angan.

Thursday, August 20, 2009

Tidakkah Kita Patut Untuk Lebih Bersyukur...?

~~~~~

Bertahan di Alas Kedungserut - Sunaryo Adhiatmoko


Siang itu, panas menyengat, seakan hendak membakar daun-daun jati kering di Alas (hutan) Kedungserut, Jiken, Blora. Tapi, Parman bergeming, ia terus menggali akar kayu jati bekas ditebang. Sekujur tubuhnya dibasahi peluh.

Untuk mengangkat akar jati yang terpendam, Parman harus menggali hingga dua meter. Kemudian, ia mengayuhkan kapak untuk memotong dan membelahnya. Selendang kumal, terikat kuat di perutnya. Tulang rusuknya tampak jelas dilapisi kulit tipis mengkilap, karena keringat. Semangatnya, bak Haryo Penangsang, sosok yang melegenda dalam sejarah wali-wali Jawa di bumi Blora.

Selendang yang terikat di perutnya, bukan jimat kekuatan. Selendang itu, untuk menahan lapar. Mengingatkan, tatkala Rasulullah mengganjal perut pakai batu, untuk menahan lapar. Parman dan pencari kayu lainnya di alas Kedungserut, melakukan kebiasaan itu, agar tenaga mampu bertahan hingga sore hari.

"Kalau ketemu ubi, masih mending bisa ganjal perut," kata ayah lima anak yang sudah 20 tahun mencari kayu bakar itu.

Di hutan jati yang tanahnya kering, suatu keberuntungan jika dapat menemukan ubi. Jika dapat, ubi tidak perlu dibakar, tapi langsung dimakan. Menurut Parman, menyalakan api di hutan bisa sebabkan kebakaran. Apalagi, saat musim kemarau begini daun jati sedang masa gugur.

Perjuangan hidup di alas Kedungserut, dimulai Parman dan para pencari kayu bakar lainnya, sejak lepas subuh. Mereka berbekal air putih. Menuju hutan, 15 km dari rumah mengendarai sepeda pancal. Sepeda tua yang umurnya sudah puluhan tahun. Kadang, rantainya putus di tengah jalan, kerap juga bannya yang meletus.

Blora, dikenal daerah sulit air. Masyarakat desa, mengandalkan hidup dari bertani. Tapi, curah hujan yang kecil, menyebabkan panen rata-rata satu kali setahun. Selanjutnya, mereka mengisi hari-hari dengan merantau menjadi buruh bangunan di kota-kota besar.

Meski alamnya keras, banyak juga yang tak lari dari Blora. Mereka tetap bertahan, dengan sumber daya hidup yang terbatas. Bagi yang punya tenaga kuat, mencari kayu bakar seperti Parman, jadi satu-satunya harapan hidup. Meski, antara tenaga yang diperas dengan penghasilan tidak sebanding.

Parman dan teman senasibnya, mulai keluar hutan lepas zhuhur. Mereka menyusun tumpukan akar kayu jati, hingga dua meter di atas sepeda. Dari dalam hutan, perlahan-lahan sepeda yang sarat muatan kayu bakar, didorong. Tangan-tangan kering, tapi agak kekar itu, bergetar hebat menopang keseimbangan kayu dan sepeda. Sulit membedakan, bergetar karena menahan lapar apa lantaran berat. Tapi, tampak dua-duanya.

Siang merambat pukul 13.30, Parman beriringan dengan temannya menyusuri jalan raya Cepu - Blora. Panas membakar aspal, hingga tampak mendidih dari kejauhan. Tapi, kaki para pencari kayu bakar itu menapak tanpa alas kaki. Dari alas Kedungserut, mereka menuju ke pusat kota, seperti Jepon. Jika jalan datar dan turun, sepeda sarat muatan itu, dinaiki pelan-pelan.

Mereka menempuh jarak 15 km, sembari menjajakan kayu di sepanjang jalan. Jika nasib baik, belum sampai pasar dan tempat pengepul, kayu mereka sudah ada yang membeli di perjalanan. Satu sepeda, biasanya dibeli Rp 25 ribu. Mereka mencari kayu tiap hari, akan istirahat jika badan benar-benar lelah.

Dalam bincang, saat istirahat di pinggir jalan Brumbung, Jepon, Parman mengurai strategi hidup bertahan di Blora. Dengan penghasilan tak lebih dari Rp 400 ribu per bulan, Parman dan keluarganya harus hidup hemat. Untuk makan saja misalnya, Parman menunggu saat perut memang sedang lapar-laparnya. Dia dan istrinya bahkan kerap satu kali makan sehari.

"Setiap hari kami biasa puasa mas. Untuk makan dua kali saja takut, besok bagaimana," curah Parman, saat berbincang persiapan jelang Ramadan, Senin, awal pekan lalu. Di atas bumi tempat Parman berpijak, sesungguhnya pusat penghasil dolar dari minyak dan gas. Tapi ketimpangan itu amat dalam.

Sehari bersama Parman, banyak pelajaran hidup yang dipetik. Saat Al-Azhar Peduli Ummat, menyelipkan bantuan jelang Ramadhan ke sakunya, Parman terbelalak. Mulutnya kaku untuk berucap. Raut mukanya yang keras mendadak sendu. Parman haru, matanya berkaca-kaca.

"Tak ada pilihan lain, saya akan tetap bertahan di alas Kedungserut," lirih Parman berucap, sembari berkata terima kasih.

(sumber : www.detik.com)

~~~~~

Lalu pantaskah kita masih mengeluh dan terus mengeluh akan hidup ini, sedangkan makan 3 kali sehari telah tercukupi dengan layak?

Tidak malukah kita pada sosok Parman, yang tidak kenal menyerah?

Tuesday, June 30, 2009

Sebuah Kado Kecil di Penghujung Juni

Usia saya telah bertambah 1 tahun lagi, beberapa waktu yang lalu


Ucapan selamat dari saudara, teman dan kolega di tempat kerja mengalir, baik via SMS, via email, komen di Facebook maupun secara langsung. Namun dari sekian banyak ucapan yang datang tak satupun yang mengena di hati.

Semuanya terkesan hambar.
~~~~~
Sore itu di kos, saya sempatkan membuka YM, ternyata ada sebuah pesan offline yang masuk

"Nadyan wêsi iku kanyatané atós, éwa sêmono yèn wís kêtrajang ing taiyèng yå bakal êntèk gripís. Sêmono ugå tumrapíng wóng kang kataman råså mèri, atiné mbåkå sêthithík ugå bakal gripís, awít rumangsa yèn awaké tansah apês, saénggå kélangan grêgêt lan lumúh makaryå. Wusanané pêpês atiné kêntèkan pêngarêp-arêp"

(Meskipun besi itu pada kenyataannya keras, akan tetapi bila telah terkena karat, akan hancur sedikit demi sedikit. Begitu juga bagi orang yang terkena rasa iri, hatinya sedikit demi sedikit akan hancur, karena merasa selalu sial sehingga kehilangan semangat dan lemah dalam berkarya. Akhirnya hancurlah hatinya karena putus asa)


Duh sebuah pesan yang langsung to the point, tanpa basa-basi langsung mengena dan berkesan di dalam hati.

~~~~~

Tak bisa dipungkiri rasa iri memang sering bercokol dalam hati.
Iri akan kesuksesan teman, baik dalam segi finansial, pekerjaan ataupun dalam hal lain.
Namun kiranya rasa iri bila teru bercokol dalam hati bisa membuat hati menjadi penuh dengan rasa penyesalan yang berujung pada rasa putus asa.
~~~~~
Well, thanks alot Mr. Bagus for your message.

Andaikan...



Andai saja...
Hidup itu seperti sebuah komputer

Bila telah kacau balau content-nya, bisa di-defrag agar teratur lagi

Bila telah error sistemnya, bisa di reinstall dengan mudah

Bila ingin ditingkatkan kinerjanya, cukup di-upgrade

Bila telah bosan, bisa dijual dan beli model terbaru.


Sayang...,
Hidup tidaklah seperti itu ...

Hidup adalah hidup, bukanlah sebuah komputer

Hidup tidak akan dengan mudahnya dapat diubah sesuai keinginan
Perlu waktu lama untuk melalukan sebuah perubahan kecil dalam hidup

Monday, May 4, 2009

Mengapa Harus Monyet?


~~~~~~
Belakangan ini saya sering dan senang sekali menggunakan foto monyet sebagai avatar di dunia maya.

Banyak teman-teman yang mengomentari akan hal tersebut. Ada yang hanya sekedar mengingatkan untuk mengganti avatar yang ada sampai ada yang "jengkel" lalu mengoda dengan anggapan saya adalah avatar tersebut. He...5x, saya sih tetep enjoy aja gak ngepek...

~~~~~~

Sebenarnya ada beberapa hal yang mendasari mengapa saya memilih monyet sebagai avatar.

Sebagaimana diketahui bahwa monyet, dalam hal ini simpanse merupakan hewan yang secara anatomi hampir mirip dengan manusia. Bahkan bagi Darwinian dan pendukung Darwinism, percaya bahwa nenek moyang manusia adalah bangsa kera (Pithecanthropus).

Trus..., dengan menggunakan monyet sebagai avatar, apakah saya termasuk Darwinian?

Jawabnya dengan tegas, TIDAK... Manusia merupakan ciptaan ALLOH yang paling sempurna (hal ini tersurat dan tersirat dengan jelas dalam ayat Al-Qur'an) , sehingga sangatlah tidak mungkin manusia merupakan hasil evolusi dari kera.

~~~~~~


Alasan mengapa saya menggunakan monyet sebagai avatar adalah karena ternyata secara sifat, perbedaan antara manusia dan kera sangatlah tipis, bahkan hampir tidak ada bedanya.

Coba "buka mata" dan "buka hati" lalu pergi ke kebun binatang dan perhatikan sifat dan sikap monyet. Ternyata banyak sifat-sifat kemonyetan yang melekat pada orang-orang di sekitar kita, bahkan mungkin pada diri kita sendiri.

Lihat, bagaimana monyet begitu bernafsunya saat melihat makanan, hingga saling sepak saling cakar tanpa peduli teman.
Bukankah manusia juga (ada yang) seperti itu.
Dalam hal mendapatkan kedudukan, pangkat dan jabatan, saling jegal tanpa peduli kawan atau bahkan saudara sendiri.

Lihat, bagaimana monyet dengan santainya bergelantungan di pohon, berlari kesana kemari tanpa malu meskipun dalam kondisi telanjang.
Bukankan manusia saat ini juga (ada yang) seperti itu.
Mengenakan pakaian mahal dan bermerk namun esensinya justru telanjang. Menggunakan kerudung namun pakaian yang dikenakannya malah menonjolkan lekuk tubuh.

Lihatlah, bagaimana monyet dengan acuh tak acuhnya melakukan hubungan seks di depan umum.

Bukankan manusia saat ini juga (ada yang) seperti itu.
Bergandengan tangan dengan pacar merupakan hal biasa. Ciuman dan pelukan dianggap bumbu pacaran. Bahkan seks pra-nikah dianggap sebagai tanda cinta.
Bukankan itu semua menunjukkan bahwa monyet adalah manusia atau manusia adalah monyet?
~~~~~~

Alasan saya mengapa menggunakan monyet sebagai avatar adalah sebagai cambuk pengingat bahwa saya adalah manusia yang merupakan makhluk yang paling sempurna dan dibekali akal budi.

Avatar itulah yang akan mencambuk jiwa ini bila telah lalai dan menempeleng kesadaran diri ini, bahwa jika saya lengah dalam menurutkan nafsu, maka tak ubahnya seperti monyet.

~~~~~~

monyet <> (diri ini + kesadaran akan akal budi)

namun

monyet = (diri ini + nafsu)

~~~~~

Monday, April 20, 2009

Arti Sebuah Kedewasaan


"Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa..., belum tentu"

~~~~~

Saya ingat sekaligus terkesan sekali atas slogan yang dipopulerkan oleh sebuah iklan rokok ini. Bukan karena iklannya yang cukup menggelitik karena diperkaya oleh ilustrasi lucu, bukan pula karena saya termasuk pengkonsumsi produknya, tapi lebih kepada makna yang disampaikan, yang menurut saya cukup mengena.

~~~~~

Hari ini saya terlibat percakapan dengan teman sekerja, di tengah sibuknya pembuatan dan revisi Work Instruction, guna persiapan audit ISO/TS 16949, seoang teman bercerita tentang arti kedewasaan. Ternyata banyak definisi dari kedewasaan yang saya peroleh dari intermezzo ini.

~~~~~

Seorang teman berpendapat bahwa kedewasaan seseorang itu dilihat dari sudut padang pengalaman hidupnya. Menurutnya usia mungkin masih belia namun bila telah cukup dalam merasakan asam garam kehidupan, maka dia telah layak untuk disebut seorang yang dewasa. 

Seorang teman mempunyai pendapat yang berbeda lagi. Menurutnya kedewasaan itu lebih cenderung kepada bisa atau tidaknya seseorang dalam menentukan dan memilih sesuatu yang terbaik di antara  beberapa pilihan baik. Isilahnya able to choose the best thing in many good things. Orang yang hanya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, belum dapat dikatakan dewasa.

Adalagi pendapat bahwa kedewasaan seseorang dilihat dari perilaku, dan cara dalam menghadapi hidup ini.

Sedangkan menurut saya, kedewasaan itu lebih kepada kemampuan seseorang untuk bertanggungjawab atas semua tindakan  yang diambil. Dengan kata lain, berani mengambil resiko atas keputusan yang telah diambil, meskipun terkadang hal tersebut pahit.

~~~~~

Cukup  diskusi kecil ini sampai tidak terasa bel tanda istirahat 10 menit (kyuke) berbunyi, dan kamipun membubarkan diri untuk menuju smoking area.

~~~~~

Entah benar atau tidak, pendapat-pendapat tentang definisi dari kedewasaan yang diperbincangkan, namun itu semua bukanlah masalah karena dalam perbincangan tadi bukan untuk menarik kesimpulan pendapat siapa yang paling benar.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah ternyata menjadi dewasa itu tidaklah mudah.
 

Bagaimana menurut pendapatmu?

Wednesday, February 11, 2009

Sang Waktu

~~~~~
Waktu...,
Begitu cepat kau berlari,
hingga tak terasa tahun demi tahun telah berlalu.

Waktu...,
Entah berapa banyak yang telah kuhabiskan dengan sia-sia.


Waktu...,
Kini berbagai pertanyaan berkecamuk dalam kepala ini.

Apa yang telah kulakukan selama ini?
Impian apa yang tlah behasil kuwujudkan?
Prestasi apa telah kuukir?
Inovasi seperti apa yang telah berhasil kuciptakan?
Dan...
Ibadah macam apa yang telah kujalani?
Sempurnakah itu?
Ataukah hanya sekedar menjalankan formalitas rutin saja?

Duhai ALLOH, yang maha segalanya,
Bimbinglah hamba-Mu ini,
agar dapat menghabiskan sisa nafas ini tuk menuju jalan-Mu

Wahai ALLOH,
berilah kekuatan pada hamba-Mu yang serba lemah ini,
agar dapat mengisi sisa umur dengan hal yang bermanfaat
hanya dan hanya tuk meraih ridho-Mu.

~~~~~

18 tahun lebih?
Gila, selama itukah waktu yang telah kuhabiskan?

Hari ini saya sempat terteegun tuk sejenak, saat berbicara via telefon mengenai lama waktu yang telah dijalani salam saya tinggal di Kalilangse (tempat sebelum saya pindah sekarang).

Masya ALLOH, begitu lama waktu yang ada namun dijalani tanpa terasa.

~~~~~

Malam ini, sambil berbaring di kos, menunggu kantuk datang menyapa, kata itu kuulangi lagi.

18 tahun lebih...!!!

Sungguh luar biasa.
Kilatan-kilatan memori menyeruak dalam benak.

Teringat saat saya masih di bangku SD, dalam seragam putih-merah. Bagaimana rasa bangga membuncah dalam dada saat dinyatakan lulus dengan jumlah nilai yang tergolong baik dan dapat diterima di SMP negeri.
-----
Ingatan itu kemudian melompat saat saya di SMA, masa-masa remaja di depan mata. Saat-saat pencrian jati diripun dimulai.
Teringat bagaimana setiap pulang sekolah selalu kumpul dengan teman-teman di sanggar Korps Soeringgit 149. Bercanda, tertawa, menghabiskan waktu dengan berbincang tentang teman, sekolah dan kepramukaan. Kadang kala diselingi dengan acara melihat teman main sepak bola atau basket di halaman depan sekolah.

Saat lulusan tiba, kali ini prestasi tak dapat kuraih. Ujian masuk perguruan tinggi-pun gagal kuraih. Saat itu sedih, malu dan merasa tidak berharga, karena telah mengecewakan orang tua.
Ingat saat itu, seharian hanya diisi dengan tidur di kamar.

Hari-hari selanjutnya hanya diisi dengan kekosongan demi kekosongan. Tiga tahun lamanya diri ini terombang ambing dalam kekosongan, hingga akhirnya masuk ke Politeknik.

Masa-masa belajar tuk menjadi seorang yang dewasa dimulai. Saat kuliah (saya lebih senang menyebutnya dengan sekolah), tak jauh beda dengan masa di SMA dulu. Hampir setiap pulang sekolah, diisempatkan untuk berkumpul di posko PCC. Sampai terkadang hari Sabtu dan Minggu un dihabiskan menginap di posko.

Teringat saat-saat ada pemberlakuan jam malam, dimana semua civitas akademik, apapun kegiatannya dibatasi sampai jam 21.00. Rasa nekat mengalahkan rasa takut dimaki-maki plus diusir saptam Politek. Pemadaman listrikpun sempat diakali.

Masa-masa sekolah di Politek, mungkin merupakan masa yang paling bekesan bagi saya, karena di saat itulah saya mulai mengenal rasa tertarik dengan seorang gadis. Namun juga masa-masa resah bagi diri ini, karena semakin mendekati waktu kelulusan, semakin cepat pula diri ini diharuskan menghadapi hidup yang sebenarnya. Hidup sebagai seorang ppria dewasa yang mempunyai beban dan tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, terhadap keluarga dan terhadap Sang Maha Pencipta, ALLOH.
-----
Ingatan itu kembali berlompatan.
Teringat saat-saat pembuatan tugas akhir. Begitu tak terlupakan, bagaimana pagi sampai siang harus tetap aktif sekolah dengan berbagai tugas yang menumpuk dan malam harinya giliran tugas akhir yang menunggu.

Huh..., akhirnya masa kelulusan pun tiba. Alhamdulillah, rasa ketakutan akan setelah lulus telah terhapuskan, dengan pekerjaan yang telah menunggu di depan mata.
-----
Kini tiga setengah tahun sudah saya bekerja di Jakarta. Dengan ritme kehidupan yang berbeda dan lebih berwarna. Masa di mana saya belajar sekaligus dihadapkan dan dipaksa untuk mengerti tentang hidup yang sebenarnya.

~~~~~

Kini, saya tengah berbaring di kos, menunggu kantuk yang entah kemana. Mengenang itu semua sebagai guratan-guratan dalam kanvas kehidupan saya.

Namun, saat mengenang itu semua, rasa gundah menyergap. Begitu banyak waktu yang telah dijalani, begitu lama namun tetap tanpa terasa. Seakan-akan itu semua berlangsung tak lebih dai bulan kemarin.

Rasa gundah itu semakin menjadi-jadi saat mengingat hal apa saja yang telah dilakukan. Berapa banyak waktu sia-sia yang telah dihabiskan, berapa banyak hal yang dapat diraih bila waktu-waktu tadi digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Ya.. ALLOH, mengapa waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan masa lalu dengan kecepatan luar biasa dengan tanpa kesempatan untuk melakukan koreksi ulang akan apa-apa yang telah dilakukan.

Ya.. ALLOH, bimbinglah hamba-Mu ini, agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

~~~~~

Demi masa (sang waktu),
sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, orang yang beramal soleh dan orang-orang yang saling nasehat-menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran..

Wednesday, January 7, 2009

Sebuah Catatan Di Awal Tahun 2009

+++++

2008

Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, hingga tibalah di penghujung tahun.

Kiranya pastilah banyak hal yang masih tersisa dari tahun ini. Begitu banyak harapan, cita-cita yang belum dapat diwujudkan, begitu banyak persoalan, masalah serta janji-janji yang belum ditunaikan. Begitu banyak timbunan tugas yang masih menjadi PR.
Namun ternyata waktu tidak mau memperlambat ritmenya. Detik demi detik terus berdetak hingga berkumpul dalam hitungan menit, jam, hari, pekan, bulan bahkan berhimpun menjadi tahun. Terus menerus melaju ke depan, tanpa mau untuk berhenti apalagi bergerak mundur.


+++++

Tepat pukul 00.00, berakhirlah 2008 dan episode kehidupan dimulai dalam tahun yang baru.

+++++

2009

Harapan baru dibuat.
Cita-cita baru direka.
Janji-janji baru diucapkan.
Tugas dan masalah baru pun menghadang di depan mata.

Sebuah pernyanyaan besar muncul.

Bisakah harapan dan cita-cita baru itu diwujudkan?
Sedangkan tumpukan harapan dan cita-cita di tahun lalu begitu banyak yang belum terwujud.

Beranikah diri ini menghadapi masa depan, dengan timbunan persoalan yang tak kunjung
usai?

Sunday, December 21, 2008

Untukmu Emak

"...
ooo.. bunda,
ada dan tiada dirimu
kan slalu ada di dalam hatiku
... "


[Bunda - Melly Goeslaw]


Emak...,
Andai saja engkau sekarang ada di dekatku,
pastilah akan banyak kisah yang akan ku ceritakan padamu,
begitu banyak...
hingga mungkin aku akan tertidur kelelahan untuk menceritakannya.

Emak...,
Andai saja engkau sekarang ada di sampingku,
pastilah akan kepeluk erat dirimu,
begitu erat...
untuk melepaskan rasa rindu ini.

Emak...,
Andai saja engkau kini ada di hadapanku,
pastilah akan kudengarkan dan kupatuhi nasehat dan wejanganmu,
akan kuyakinkan engkau merasa puas dan bangga akan kepatuhanku.

Tetapi...
kiranya ALLOH berkehendak lain,
dan memanggilmu lebih cepat.

Hingga...
hanya dalam diam,
kudapat menceritakan semua yang kualami,
hanya dengan tulisan ini,
kudapat mencurahkan semua rasa rinduku padamu,
hanya doa,
yang kini dapat kuberikan padamu

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

“Ya ALLOH, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku,
sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”


[to commemorate my lovely mother,
Mak..., I really love you and really miss you]

Wednesday, December 3, 2008

Tentang Hidup

+++++

Ada seorang teman pernah berkata, bahwa hidup itu laksana anak panah dan busurnya. Untuk dapat melasat ke depan, perlu berhenti sejenak untuk menarik busur ke belakang serta membidik sasaran.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila busur tersebut patah karena tak kuat menahan beban tarikan?
Anak panah tak akan pernah melesat jauh ke depan, ia akan berada di belakang lalu jatuh ke tanah, dianggap sampah, dibiarkan membusuk.

+++++

Ada orang bijak berkata, bahwa hidup itu seperti noktah yang melekat pada sebuah roda. Ada kalanya dia berada di atas, berada di puncak hingga dapat melihat indahnya dunia, serta semilirnya hembusan angin.
Suatu kala dia berada di tengah dan di saat yang lain ia berada di bawah.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila roda tersebut rusak dan behenti berputar?
Bukankah yang berada di titik nadir, akan terus berada di sana. Terus menahan beban dan bergumul dengan debu jalanan yang akan berubah menjadi lumpur hitam serta kotor dan bau saat hujan turun, tanpa pernah dapat merasakan hebusan angin atau cerahnya sang surya.

+++++

Ada lirik dalam lagu yang mengungkapkan bahwa hidup seperti cuaca, sehebat apapun badai yang terjadi, ia akan berlalu. Yang dilakukan adalah mencari tempat berlindung dan menunggu sampai ia mereda, maka akan dijumpai langit biru nan cerah.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila tak ada satupun tempat untuk berlindung sedang badai mulai datang?
Pilihannya hanya ada dua, tetap terus mencari tempat berlindung atau bertahan dalam badai tanpa perlindungan apapun. Keduanya akan berujung sama yaitu membeku kedinginan lalu hancur dan musnah tersapu badai.

+++++

Hidup memang berat.
Hidup memang sulit.
Hidup memang terkadang kejam.
Hidup memang terasa tidak adil.

+++++

Namun biarlah diri ini bagaikan busur patah yang telah dianggap sampah busuk, asalkan dengannya dapat menjadi pupuk penumbuh bibit cinta kepada ALLOH.

Tidak mengapa bila diri ini terus-menerus bergumul dalam kubangan Lumpur hitam, asalkan cahaya kebenaran dari tetap menerangi jiwa ini.

Tak jadi soal bila diri ini harus beku dan hancur dalam badai, asalkan iman kepada ALLOH dan Rosul-Nya tetap mengkristal, sekalipun tubuh telah musnah tesaput angin.

+++++

Sobat,
sesungguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan.
Yakinlah setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan,
karena itulah yang telah dijanjikan oleh ALLOH.

Bertahan, berusaha, berdoa dan bersabar itulah kuncinya



(dedicated for myself, who always doubtful to face this life)

Saturday, November 1, 2008

Di Jakarta Mencari Surga - WS Rendra

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah.........keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika,
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku ,dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, menolak keputusanNya sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah......

Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.