Pages

Friday, December 25, 2009

stasiun


di sudut stasiun itu,
entah sudah berapa batang rokok yang telah kuubah jadi gumpalan asap.
sementara sang waktu seolah menghianatiku, dengan memperlambat setiap detiknya.
berapa lama lagi aku harus menunggu, hanya tuk sekedar melihat lesung pipitmu.
tahukah engkau ratusan kilometer kutempuh, hanya tuk melihat senyum manismu itu.
ah..., senyum yang mampu menghangatkan hati ini yang telah lama membeku.

di sudut stasiun itu, aku menunggumu.
entah telah berapa lama tlah kuhabiskan dengan duduk diam di kursi kayu ini.
sementara itu bayangmu pelahan namun pasti, kembali mengusik benakku.
berapa kali harus kuteguhkan hati, agar tak terhanyut oleh kenangan tentangmu.
tahukah engkau ratusan cara telah kucoba tuk melupakan semua tentangmu.
ah..., namun sketsa wajahmu telah begitu dalam menggurat dalam ingatanku.

di sudut stasiun itu, aku menunggumu.
entah apa yang akan kukatakan saat nanti bertemu denganmu.
sementara aku tahu bahwa kau kini tidak sendiri lagi.
berapa kali harus kuyakinkan diri, bahwa ini hanya sekedar perjumpaan biasa.
tahukan engkau puluhan doa telah kupanjatkan, agar situasi tak kaku seperti ini.
ah..., mengingatmu seperti mengkhianati temanku sendiri.

di sudut stasiun itu, aku masih menunggumu.
namun engkau masih juga belum menampakkan diri.
harapan tuk bertemu lagi denganmu memudar sudah,
seiring dengan asap dari rokok terakhirku.
mungkin itu yang terbaik buatmu, buatnya dan buat diriku.

ah..., mungkin keinginanku untuk sekedar bertemu,
itu terlalu berlebihan,
maaf.

~~~~~
Ditulis : Jakarta, 29 Desember 2009, dini hari
Terinspirasi saat melaju menuju Semarang menggunakan KA Kaligung

Friday, December 18, 2009

Sepi



~~~~~

Saat sepi datang menyapa...
yang kulakukan adalah diam
berusaha untuk menyatu dengan sepi
hingga...
tak akan muncul lagi rasa sepi itu
karena...
aku adalah sepi
dan sepi adalah aku