Pages

Sunday, December 28, 2008

Twilight on The Lens



This pictures taken from my boarding house, after the rain



This pictures taken from my house, BSB Semarang, before Iedul Adha Pray

Sunday, December 21, 2008

Untukmu Emak

"...
ooo.. bunda,
ada dan tiada dirimu
kan slalu ada di dalam hatiku
... "


[Bunda - Melly Goeslaw]


Emak...,
Andai saja engkau sekarang ada di dekatku,
pastilah akan banyak kisah yang akan ku ceritakan padamu,
begitu banyak...
hingga mungkin aku akan tertidur kelelahan untuk menceritakannya.

Emak...,
Andai saja engkau sekarang ada di sampingku,
pastilah akan kepeluk erat dirimu,
begitu erat...
untuk melepaskan rasa rindu ini.

Emak...,
Andai saja engkau kini ada di hadapanku,
pastilah akan kudengarkan dan kupatuhi nasehat dan wejanganmu,
akan kuyakinkan engkau merasa puas dan bangga akan kepatuhanku.

Tetapi...
kiranya ALLOH berkehendak lain,
dan memanggilmu lebih cepat.

Hingga...
hanya dalam diam,
kudapat menceritakan semua yang kualami,
hanya dengan tulisan ini,
kudapat mencurahkan semua rasa rinduku padamu,
hanya doa,
yang kini dapat kuberikan padamu

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO

“Ya ALLOH, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku,
sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”


[to commemorate my lovely mother,
Mak..., I really love you and really miss you]

Wednesday, December 3, 2008

Tentang Hidup

+++++

Ada seorang teman pernah berkata, bahwa hidup itu laksana anak panah dan busurnya. Untuk dapat melasat ke depan, perlu berhenti sejenak untuk menarik busur ke belakang serta membidik sasaran.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila busur tersebut patah karena tak kuat menahan beban tarikan?
Anak panah tak akan pernah melesat jauh ke depan, ia akan berada di belakang lalu jatuh ke tanah, dianggap sampah, dibiarkan membusuk.

+++++

Ada orang bijak berkata, bahwa hidup itu seperti noktah yang melekat pada sebuah roda. Ada kalanya dia berada di atas, berada di puncak hingga dapat melihat indahnya dunia, serta semilirnya hembusan angin.
Suatu kala dia berada di tengah dan di saat yang lain ia berada di bawah.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila roda tersebut rusak dan behenti berputar?
Bukankah yang berada di titik nadir, akan terus berada di sana. Terus menahan beban dan bergumul dengan debu jalanan yang akan berubah menjadi lumpur hitam serta kotor dan bau saat hujan turun, tanpa pernah dapat merasakan hebusan angin atau cerahnya sang surya.

+++++

Ada lirik dalam lagu yang mengungkapkan bahwa hidup seperti cuaca, sehebat apapun badai yang terjadi, ia akan berlalu. Yang dilakukan adalah mencari tempat berlindung dan menunggu sampai ia mereda, maka akan dijumpai langit biru nan cerah.

Benarkah demikian?
Apa jadinya bila tak ada satupun tempat untuk berlindung sedang badai mulai datang?
Pilihannya hanya ada dua, tetap terus mencari tempat berlindung atau bertahan dalam badai tanpa perlindungan apapun. Keduanya akan berujung sama yaitu membeku kedinginan lalu hancur dan musnah tersapu badai.

+++++

Hidup memang berat.
Hidup memang sulit.
Hidup memang terkadang kejam.
Hidup memang terasa tidak adil.

+++++

Namun biarlah diri ini bagaikan busur patah yang telah dianggap sampah busuk, asalkan dengannya dapat menjadi pupuk penumbuh bibit cinta kepada ALLOH.

Tidak mengapa bila diri ini terus-menerus bergumul dalam kubangan Lumpur hitam, asalkan cahaya kebenaran dari tetap menerangi jiwa ini.

Tak jadi soal bila diri ini harus beku dan hancur dalam badai, asalkan iman kepada ALLOH dan Rosul-Nya tetap mengkristal, sekalipun tubuh telah musnah tesaput angin.

+++++

Sobat,
sesungguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan.
Yakinlah setelah kesusahan pasti akan ada kemudahan,
karena itulah yang telah dijanjikan oleh ALLOH.

Bertahan, berusaha, berdoa dan bersabar itulah kuncinya



(dedicated for myself, who always doubtful to face this life)

Saturday, November 15, 2008

Recto Verso

Pengertian recto verso adalah dua buah citra yang saling terpisah namun pada dasarnya keduanya merupakan satu kesatuan.

Kali ini Dewi Lestari mengekspresikan sebuah konteks seni ke dalam dua media, melalui sastra yang berupa cerpen dan melalui media musik.

Keduanya dapat dinikmati secara terpisah, namun sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang akan saling melengkapi. Itulah kejeniusan Dewi Lestari dalam menciptakan sebuah karya seni bertajuk Recto Verso.

Inti dari karya Dee yang satu ini berkisah tentang cinta dari berbagai sudut pandang.
Maka saya lebih suka untuk menyebut Recto Verso-nya Dee sebagai kumpulan pusi cinta.
Hal ini dikarenakan simplenya cerpen sehingga lebih mirip pusis dari pada cerpen dan isi cerpen itu sendiri yang mengisahkan bahwa mencintai seseorang ternyata tak semulus yang di bayangkan. Cinta dapat bermetamorfosa menjadi sesuatu yang sangat manis seperti permen dan di lain waktu ia berubah menjadi pahit seperti pil kina.

11 kisah dan lagu dalam Recto Verso :
- Curhat Buat Sahabat
- Malaikat Juga Tahu
- Selamat Ulang tahun
- Aku Ada ---> I like this part
- Hanya Isyarat ---> I like most cause this story remind me to someone that I never forget
- Peluk
- Grow a Day Older
- Cicak di Dinding
- Firasat
- Tidur
- Back to Heaven's Light

Maka "Dengarkan Kisahnya, Baca Musiknya, dan Selami Ilustrasinya"

Saturday, November 1, 2008

Di Jakarta Mencari Surga - WS Rendra

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah.........keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika,
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku ,dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, menolak keputusanNya sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah......

Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.